Back
32. Babirusa
Tuesday, May 10, 2011 3:50 am
32. Babirusa
Gigi taring atas babi rusa tumbuh berukuran ekstrem bak gading yg menembus kulit moncongnya, gigi ’gading' ini membengkok ke dlm hingga menyentuh kepalanya. Gigi 'gading' itu membentuk lingkaran unik yg sekaligus menjadi pembeda babi rusa dgn hewan lain. Babi rusa jantan umumnya memiliki gading yg besar & tajam. Sebetulnya kelebihan itu tdk membantu babi rusa dlm berperang, bila tersundul sesuatu, gading itu akan menusuk kepalanya sendiri.
Tepi sungai & pinggir danau di hutan tropis Sulawesi merupakan 'kampung halaman' babi rusa. Binatang ini dulu banyak terlihat di daerah Togian, Sulu & Buru. Namun sekarang jumlahnya tidak banyak. Kini, babirusa sudah termasuk binatang yg hampir punah. Diperkirakan, populasinya tinggal 4.000 ekor.
Binatang ini termasuk babi yg hebat, Babirusa pandai berenang & jago lari, tidak seperti babi yg bisa beranak sampai 16 ekor, babi rusa betina hanya melahirkan paling banyak dua anak saja. Mereka biasa hidup bersama, ikatan kekeluargaan inilah yg membuat pertahanan diri terhadap predator menjadi lebih baik. Induk babi rusa membuatkan anaknya sarang dari rerumputan. Dgn jumlah anak yg sedikit, induk babirusa punya perhatian yg besar untuk merawat keturunannya. Saat masih kecil babirusa sangat rentan thd serangan predator. (Sumber Republika, Selasa 7 Oktober 2003).
SELAMA ini, Pulau Buru belum lagi dijadikan daerah tujuan wisata, tetapi bagi pecinta lingkungan dan penggemar wisata petualangan, di Pulau Buru ini cukup banyak potensi terpendam yang siap dinikmati, antara lain suasana perburuan yang sampai sekarang masih dilakukan oleh orang Rana, penduduk asli Pulau Buru. Sedangkan bagi yang gemar memperhatikan tingkah laku dan mendengarkan berbagai suara burung, sangat mengasyikkan melakukannya di Pulau Buru. Baca tiga tulisan tentang Pulau Buru di halaman ini.

Orang Rana merupakan penduduk asli Pulau Buru yang menetap di sekitar Danau Rana yang terletak di pedalaman Pulau Buru dan saat ini masih tersisa sekitar tujuh desa. Sudah banyak dari mereka yang dibina oleh misionaris Gereja, mulai turun gunung untuk menetap di daerah pesisir membentuk pemukiman baru dan meningkatkan taraf hidupnya. Cukup banyak orang rana yang sudah membuka tanah harapan dan beberapa di antara mereka bahkan sudah bisa memiliki perkebunan yang permanen didaerah pesisir.

Meskipun, masih ada saja orang Rana yang bersikukuh ingin tetap mempertahankan kebiasaan berburu. Orang-orang inilah yang memiliki rumah di tengah hutan sebagai penunjang kegiatan berburu mereka selama beberapa hari. Rumah ini oleh masyarakat setempat biasa disebut Rumah Mencari. Dan hanya bila mereka sudah berhasil mendapatkan hasil buruannya barulah mereka akan keluar dari Rumah Mencari yang di hutan itu untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.

Binatang unik Kawasan Asia Tenggara merupakan tempat kehidupan babi liar yang paling
besar bila dibandingkan dengan kawasan biogeografik lainnya di dunia. Ini disebabkan karena di Asia Tenggara terdapat 7 species dengan 10 sub species kehidupan babi liar. Di antara ketujuh species tersebut, salah satunya babi rusa lah yang paling unik, baik morfologi tubuh,
habitat atau tempat tinggal serta cara hidupnya.

Babi rusa memiliki 4 sub species yang hanya terdapat di Pulau Buru, Kepulauan Sula, Sulawesi Tengah, bagian Timur dan Kepulauan Togian (Sulawesi Tengah). Masyarakat asli Pulau Buru menyebutnya Fafu Boti yang artinya babi putih yang terdiri dari dua jenis, Bile dan Fafu
Boti / Babi putih]. Fafu Boti inilah yang dikenal sebagai bagai rusa. Kedua jenis ini sering berjalan bersama.

Beda antara Bile dan Fafu Boti, Bile warna tubuhnya lebih gelap (putih agak keabu-abuan) dan tubuhnya kecil bila dibandingkan dengan Fafu Boti. Babi putih memiliki nama yang berbeda-beda tergantung dari ukuran naniri-nya, yaitu taring yang tumbuh pada kedua sisi mulutnya sebagai senjata untuk membela diri. Bila naniri-nya baru tumbuh, maka binatang itu disebut Paktout, dan kalau sudah panjang melingkar, Pakiplalit. Lain lagi kalau babi putih ini besar dan naniri-nya pun
besar dan melingkar, maka disebut, Sekanotin. Untuk membedakan mana jenis yang jantan dan mana yang betina tidak terlampau sulit. Yang betina tidak memiliki naniri, sedangkan yang
jantan dewasa berukuran lebih besar dari ukuran babi jenis lain yang ada di Pulau Buru. Badannya pun lebih panjang, dengan kaki depan yang lebih pendek dari kaki belakang. Taringnya tidak pernah
digosok-gosokkan di batu seperti babi lainnya serta kulitnya yang lembek' pun tidak keras. Hanya saja jenis ini selalu berusaha untuk mematahkan taringnya. Sebab, kalau taringnya terus memanjang, akibatnya akan menusuk ke matanya. Sehingga dapat dikatakan, bahwa umur babi juga ditentukan oleh naniri-nya sendiri.

Babi rusa di Pulau Buru memiliki tempat tinggal yang berbeda dengan ang ada di tiga tempat lainnya. Di sini, babi rusa menempati daerah berbukit dan bergunung batu/karang bahkan dengan tebing terjal sekali pun. Umumnya, pada pegunungan hingga puncak gunung atau bukit, babirusa ini tidur di atas batu atau tiang-tiang batu yang tersusun secara alamiah. Babi rusa tidak akan pernah tidur diatas tumpukan daun-daun. Begitu juga kalau mandi di kubangan, babi rusa memilih air yang agak bersih dan tidak becek.

Pada musim panas, sering terlihat babi rusa berendam di sungai. Makanannya dedaunan jenis pohon kayu kuning, gondal dan daun meranti yang jatuh, selain itu juga jenis umbi-umbian seperti kilo, tunas globa dan rebung. Kadangkala babi rusa pun mengkais pohon-pohon tumbang yang telah membusuk dan babi ini tidak akan pernah masuk ke kebun-kebun masyarakat untuk memakan atau merusak tanaman yang ada di dalamnya.

Babi rusa rusa memang tidak makan jenis tanaman yang umumnya dimakan babi lainnya. Babi rusa sering terlihat berjalan sendiri atau dalam kelompok kecil. Apabila berjalan dalam kelompok, mereka selalu mengeluarkan suara yang teratur dan berbalasan, kecil dan panjang Suirii....suuuuuiiiriiii. Keberadaannya saat ini masih cukup terjaga, tetapi cukup sulit juga untuk bisa melihatnya mengingat babi rusa memiliki wilayah sebaran yang spesifik dan tidak dapat dijumpai di
semua tempat di Pulau Buru. Apalagi, daerah yang digemari adalah kawasan berbukit atau pegunungan yang terjal.

Umumnya, babi rusa dapat terlihat pagi hari, saat akan memulai aktivitasnya yang mengikuti pasang surut ait laut. Bila laut pasang ia mencari makan tetapi saat laut surut, ia beristirahat. Adapula yang
mengikuti pasang surutnya bulan, artinya bila bulan baru sampai pada hari ke 15 babi rusa cenderung beraktivitas sore sampai magrib dan pagi hari hingga pukul 09.00 WIT. Bila bulan terang, hari ke 16-28 ia cenderung mencari makan malam hari dan pagi. Berdasarkan perhitungan
dan pengalaman masyarakat setempat, babi rusa jarang diketemukan pada waktu siang hari.

Masyarakat yang berburu babi rusa selalu membawa anjing pemburu sampai empat ekor dan menggunakan jerat (dodeso) dari tali serta membuat jebakan yang mematikan (sungga). Jebakan ini terbuat dari bambu yang diruncingkan dan sangat tajam. Baik jerat maupun jebakan umumnya
dipasang pada lokasi yang sering dilalui babi rusa. Bila tertangkap atau terterkam anjing pemburu, dapat dipastikan babi rusa kalah dalam bertarung. Mengapa? Karena kulitnya lembek, tidak tebal seperti babi lainnya dan begitu digigit langsung jatuh.

Babi rusa, kebiasaan dan legendanya Tetapi bila berhadapan secara langsung, ada kemungkinan ia segera lari menghindar sambil sekalian menyerang atau menyerusuk, Dalam berlari, ia selalu memilih lari secara cepat ke atas bukit sehingga sulit ditangkap, ketimbang kalau ia lari kebawah. Bila ia lari ke atas, biasanya perutnya yang besar akan turun ke bawah dan tidak menekan
jantung serta paru-parunya. Tetapi, bila ia lari ke bawah, babi rusa akan cepat lelah dan kehabisan tenaga akibat jantung dan paru-parunya tertekan oleh perutnya yang besar sehingga ia sulit bernafas. Akibatnya dia akan cepat lelah dan mudah ditangkap. Uniknya, saat akan mati babi rusa
akan menyilangkan kedua kakinya baik yang depan dan yang belakang. Dagingnya sering dibuat dendeng yang tahan cukup lama.

Menurut kepercayaaan masyarakat Rana, ada dua pantangan yang harus ditaati saat berburu babi rusa. Pertama, bila akan berburu niatnya tidak boleh terucap, apalagi disampaikan kepada orang lain, akibatnya akan membawa sial. Orang itu tidak akan menemukan babi rusa, alih-alih menangkapnya. Kedua, apabila sudah dapat, jangan sekali-kali menumbuk tulang dan mengisap sumsumnya. Kalau hal ini sampai dilanggar maka babi rusa akan menghilang, artinya babi rusa akan pindah ke tempat yang jauh dari masyarakat.

Selain pantangan ada juga legenda mengenai babi rusa ini. Konon kabarnya, dahulu nenek moyang babi rusa asli pulau Buru adalah sepasang suami istri. Di sebuah desa yang bernama Saleki, hiduplah
sepasang suami istri yang serba kecukupan dan belum dikaruniai anak, oleh sebab itu ia melakukan perjalanan ke luar desa. Setelah berjalan berhari-hari mereka belum menemukan sebuah desapun, sementara bahan makanan sudah habis. Pada sat itu mereka benar-benar tersiksa lapar dan haus, sudah tidak ada lagi yang dapat dimakan, sampai akhirnya suami-istri ini bersumpah "Kalau hidup sudah susah begini, lebih baik jadi binatang saja seperti babi agar dapat memakan apa saja." Setelah
sumpah itu diucapkan, mereka tertidur karena lapar dan lelah. Ketika terbangun, ujud mereka telah berubah menjadi babi rusa. Percaya atau tidak, itulah legenda, cerita sahibul hikayat masyarakat asli Pulau Buru. (Tomie D/Yan Persulessy)
Sebagai satwa yang aktif di malam hari, kehidupan babirusa bisa dibilang unik. Suka menyendiri, senang “mandi lulur” di kubangan lumpur, dan gampang marah bila sedang birahi. Bahkan para pejantannya suka berkelahi rebutan “calon istri”.

Apa artinya sebuah nama! Tapi, nama yang kurang lazim selalu memunculkan tanda tanya. Contohnya babirusa. Babi atau rusakah? Kegundahan itulah yang menimpa sejumlah pakar biologi ketika harus memberi nama ilmiah untuk binatang yang wujudnya tak lazim. Bentuknya yang lebih menyerupai babi, membuatnya masuk keluarga Suidae alias babi-babian. Tapi, lantaran berbeda dengan babi yang sudah ada, binatang ini dimasukkan dalam genus Babyrousa. Sedangkan untuk nama jenisnya, dipakai lagi kata babirusa dengan sedikit modifikasi. Jadilah Babyrousa babyrussa.

Satwa ini tercatat sebagai salah satu binatang asli Pulau Sulawesi dan sekitarnya. Pulau ini menjadi bagian dari wilayah Wallacea yang memiliki campuran flora-fauna berciri Asia dan Australia.

Moyang babirusa diperkirakan merupakan babi liar asal Pulau Kalimantan. Terisolasinya pulau ini dalam kurun waktu cukup lama menyebabkan babi liar ini berevolusi menjadi babirusa macam sekarang.

Taring ke arah mata

Dengan berat badan dapat mencapai 100 kg lebih, bentuk fisik babirusa sepintas mirip babi biasa. Hanya saja ukurannya memang sedikit lebih besar. Badannya gendut di belakang, lantas menciut di bagian depan sampai ke ujung hidung. Sementara bagian leher tidak jelas keberadaannya.

Kulit babirusa berwarna abu-abu kecoklatan, dengan lapisan tebal berlipat-lipat. Di atasnya tumbuh rambut-rambut kecil, halus, dan jarang. Kalau berjalan, badannya yang gendut ikut bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.

Taringnya adalah satu hal yang membuat binatang ini istimewa. Pada babi hutan biasa alias celeng, taring muncul keluar dari mulutnya. Bahkan ada jenis babi yang dua pasang taringnya keluar memanjang dari rangkaian gigi-giginya. Tetapi semua itu tetap lewat “prosedur” resmi, keluar melalui bibir samping. Sedangkan pada babirusa tidak selazim itu. Sepasang taring bawah tumbuh biasa, keluar dari samping bibir. Tapi sepasang lagi berada di rahang atas, keluar berbelok arah menembus rahang atas sekaligus kulit di atasnya dan nyelonong terus ke arah belakang.

Semakin tua usia binatang ini, taringnya makin panjang. Arah perpanjangan taring ini tepat ke mata. Anehnya, pada saat nyaris menghujam ke mata, ia lantas berbelok arah. Melengkung dan melingkar ke arah bawah, dan terus memanjang. Gara-gara taring panjang menyerupai tanduk ini barangkali orang lantas menyangkanya sebagai rusa. Alhasil, masyarakat lokal menamainya dengan sebutan babirusa.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Alfred Russell Wallace, peneliti berkebangsaan Inggris yang banyak mendata flora-fauna di Sulawesi, diketahui babirusa mengasah taring-taringnya dengan cara menggesek-gesekkannya pada pohon-pohon kecil. Pada taring bagian atas yang lebih panjang pun, ternyata ditemukan banyak goresan dan retakan-retakan. Hal ini menjadi alasan kuat bahwa taring babirusa, khusus yang jantan, berguna sebagai senjata dalam perkelahian antarsesama babirusa. Biang keladi bentrokan umumnya untuk mempertahankan wilayah ataupun memperebutkan betina untuk dijadikan pacar.

Sebagai binatang endemik, babirusa tercatat hanya hidup di Pulau Sulawesi, Kepulauan Togian, Kepulauan Sula, dan Pulau Buru di Maluku. Pada zaman dulu jenis babirusa ini konon banyak dipiara oleh para penguasa untuk dijadikan cinderamata bagi tamu kenegaraan. Bahkan diduga, pelaut-pelaut Bugis sempat membawa satwa ini ke daerah Bali, sehingga masyarakat di sini melukiskannya sebagai raksasa bertubuh manusia setengah binatang bertaring melengkung menembus pipi, mirip babirusa.

Suka menyendiri

Di habitat aslinya babirusa hidup di hutan-hutan basah pinggir pantai, serta hutan dataran rendah di tepi-tepi sungai dan danau. Mereka berkeliaran dalam kelompok-kelompok kecil atau sendirian. Hasil survai oleh beberapa peneliti menunjukkan, sekitar 45% babirusa selalu dijumpai menyendiri, terutama yang jantan. Jika mereka berkelompok, komposisi yang paling sering ditemui terdiri atas babirusa jantan dan betina dewasa bersama seekor anaknya. Kendati kadangkala dijumpai juga hanya berdua tanpa anak. Jumlah anggota terbesar tercatat mencapai delapan ekor per kelompok.

Meski sebenarnya merupakan hewan yang aktif pada malam hari, mereka masih juga keluyuran di siang hari. Tidak seperti babi-babi biasa yang sering kasak-kusuk menggali tanah untuk mencari umbi-umbian, babirusa lebih memilih makan buah-buahan yang jatuh di lantai hutan. Adakalanya mereka mendongkel kayu-kayu lapuk untuk mendapatkan larva kumbang yang bersemayam di dalamnya, sebagai menu tambahan.

Pakan utamanya berupa buah-buahan dari pohon Pangium adule (pangi). Tak jarang pula mereka kedapatan melahap sayuran sebangsa kangkung yang tumbuh di rawa-rawa tempatnya berkubang. Jika masih merasa lapar, mereka juga menggasak buah-buahan seperti kenari, oak, dan chesnuts. Bahkan ketika bertandang ke kebun dan mendapati mangga jatuh, mereka makan juga.

Yang menarik, babirusa sekali waktu menggapai dedaunan beringin atau pisang dengan cara berdiri bertumpu pada kedua kaki belakang. Di kawasan pantai kadang-kadang babirusa juga menyantap buah kelapa yang baru bertunas. Kebiasaan ini membuat babirusa sebagai hama yang serius pada perkebunan kelapa.

Seperti jamaknya para babi, babirusa pun suka sekali bermain lumpur. Kebiasaan berkubang ini sebagai upaya menjaga suhu tubuhnya agar tetap stabil, sekaligus membersihkan badan mereka. Perilaku “mandi lulur” ini dikenal dengan istilah salt lick. Kalau pada manusia lazimnya dilakukan oleh kaum wanita, sebaliknya di kalangan babirusa ritual itu biasa dilaksanakan oleh sang jantan.

Jantan dewasa akan berdiri di atas lumpur, mengangkat kepalanya beberapa saat sebelum kemudian mencelupkan hidungnya yang bertanduk ke dalam lumpur. Sambil mengeluarkan bunyi secara perlahan, si babirusa mulai meluncurkan badannya ke arah depan dengan dorongan kedua tungkai depan, dan hidung tetap terendam. Setelah itu mulailah ia berguling ke kanan dan kiri sebelum mentas dari kubangan untuk mencari makan kembali.

Satwa liar yang satu ini dikenal mampu berlari kencang. Bahkan juga diyakini dapat berenang di laut untuk mencapai pulau terdekat. Indera pendengaran dan penciumannya pun dikenal tajam, sehingga jarang manusia dapat bertemu langsung dengannya, karena mereka keburu lari begitu mencium bau “makhluk asing”.

Orang kadang-kadang masih berharap bahwa babirusa adalah rusa yang mirip babi. Tapi harapan tinggal harapan, karena dari segi pencernaan, babirusa bukan tergolong hewan memamah biak seperti rusa yang mempunyai banyak lambung. Walaupun lebih rumit dari sistem pencernaan hewan lain, babirusa tetap memiliki lambung tunggal. Mereka diduga sanggup menguraikan selulosa dengan bantuan bakteri dalam lambung. Jadi, ya... maaf saja, babirusa tetap babi.

Sebenarnya, babirusa sudah membentuk kelamin sejak berumur 5-10 bulan. Namun karena saat itu tubuhnya masih kecil dan dalam perawatan sang induk, maka baru sekitar umur dua tahun, mereka siap bunting. Masa birahi betina babirusa berlangsung sekitar satu bulan lebih. Ditandai dengan munculnya bau yang khas dari alat kelaminnya.

Saat sang jantan dan betina bertemu, jarang sekali terjadi bentrokan. Tetapi dapat saja babirusa jantan frustrasi dan menjadi agresif jika si betina tidak segera merespons kemauannya. Setelah kawin, babirusa masuk ke masa bunting selama 160 hari. Tanda-tanda kehamilan secara jelas dapat terlihat dua bulan menjelang kelahiran. Saat itu perut dan payudara terlihat membesar. Umumnya babirusa melahirkan satu ekor anak setiap kelahiran, namun kadang muncul juga bayi kembar. Anaknya sudah dapat makan seperti induknya setelah umur 10 hari. Si induk dapat kembali birahi setelah lima bulan. Umur babirusa bisa mencapai 24 tahun.

Sanca musuh bebuyutan
Babirusa hampir tidak memiliki musuh alami. Kecuali ular sanca berukuran besar yang sesekali memangsa anaknya. Selain itu, kematian babirusa lebih sering disebabkan ulah manusia. Penduduk setempat dengan motif ekonomi memburu satwa ini untuk diambil dagingnya. Entah dikonsumsi sendiri ataupun dijual di restoran. Tengkorak babirusa jantan juga banyak diperjualbelikan sebagai cinderamata bagi para wisatawan.

Di beberapa tempat di Sulawesi yang dulu dikenal sebagai habitat alami babirusa, kini nyaris sulit bisa ditemui kawanan mereka. Bahkan di C.A. Tangkoko Duasudara yang pernah dilaporkan Wallace sebagai tempat berlimpahnya babirusa, sejak 1980 sudah tak ada lagi. Di Taman Nasional Lore Lindu, yang pernah berbangga dengan maskotnya berupa babirusa pun, kini sudah sangat jarang. Bahkan beberapa babirusa hasil penangkaran yang dilepaskan ke habitat asalnya, banyak yang mati.

Tugas kitalah untuk terus menyelamatkan mereka sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang kita miliki. Sementara dunia internasional menetapkannya sebagai binatang yang dilarang untuk diperjualbelikan.