Mengenal Keanekaragaman Ular Eksotis di Indonesia

Mengenal Keanekaragaman Ular Eksotis di Indonesia

Mengenal Keanekaragaman Ular Eksotis di Indonesia

Indonesia memiliki kekayaan spesies ular yang luar biasa, mencakup jenis-jenis ikonik seperti Ular Sanca (Python), King Kobra, Ular Hijau Ekor Merah, hingga Ular Weling, baik yang berbisa maupun tidak.

Diketahui ada lebih dari 349 spesies ular yang dapat dijumpai di wilayah Nusantara. Kenapa bisa ada sebanyak itu? Karena Indonesia sebagai negara tropis memiliki hutan hujan yang lembap dan hangat, menjadikannya habitat ideal bagi hewan berdarah dingin ini untuk berkembang biak dan bertahan hidup. Untuk selengkapnya, yuk, langsung simak informasi berikut tentang beberapa jenis ular di Indonesia, lengkap dengan fakta uniknya!

Klasifikasi Ular Berbisa dan Tidak Berbisa

Seperti disebutkan sebelumnya, jenis-jenis ular yang ada di Indonesia meliputi spesies yang berbisa dan tidak. Dinukil dari BRIN, dari semua jenis ular yang tersebar di Nusantara, hanya 77 spesies saja yang berbisa.

Walaupun perbandingannya lebih sedikit, Sahabat Satwa tetap perlu waspada apabila bertemu dengan seekor ular. Akan lebih baik lagi jika kamu mengetahui perbedaan antara ular berbisa dengan yang tidak guna mencegah kejadian fatal. Sebab, tak sedikit jenis ular di Indonesia yang memiliki efek bisa mematikan, misalnya ular weling.

Lantas, bagaimana cara membedakan ular berbisa dan tidak berbisa? Ada beberapa indikator yang bisa diperhatikan, yakni dari ciri fisik dan perilaku.

Ciri Fisik

Ular berbisa umumnya memiliki moncong runcing, kepala segitiga, lubang sensor panas, dan pupil berbentuk lonjong. Di sisi lain, ular yang tidak berbisa biasanya memiliki moncong, kepala, dan pupil yang bulat.

Warna tubuh dapat pula menjadi indikator, walaupun tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama. Ular berbisa biasanya memiliki kulit berwarna cerah dengan pola khas, misalnya garis-garis atau bintik-bintik. Ular yang tidak berbisa sebenarnya juga seperti itu, tapi umumnya warna kulit maupun corak mereka kurang mencolok.

Perilaku

Ular berbisa umumnya menunjukkan perilaku yang agresif. Ketika merasa terancam, tak jarang mereka akan melingkar, mendesis, mengembangkan tubuh, atau bahkan langsung menyerang. Sementara itu, ular yang tidak berbisa cenderung pasif dan biasanya lebih memilih untuk melarikan diri.

Cara ini tentu dapat membantumu untuk mengetahui apakah seekor ular berbisa atau tidak dan menjaga keselamatan diri, khususnya ketika beraktivitas di alam bebas.

Walaupun begitu, langkah paling aman yang perlu Sahabat Satwa lakukan adalah dengan menghindar dan segera menjauh. Karena pastinya, digigit ular, terlepas berbisa atau tidak, sudah barang tentu sakit, kan, Sahabat Satwa?

Beberapa Jenis Ular di Indonesia

Setelah mengetahui perbedaan antara ular berbisa dengan yang tidak, mari kenalan dengan jenis-jenis ular di Indonesia yang tergolong kedua kategori tersebut.

Ular Sanca Kembang

Ular Sanca Kembang

Ular sanca kembang (M. reticulatus) merupakan salah satu jenis ular di yang hidup di dataran Nusantara. Masyarakat Indonesia sendiri punya beberapa julukan untuknya, di antaranya piton dan ular sawah.

Spesies ini begitu dikenal karena termasuk salah satu ular terpanjang di dunia. Sanca kembang sendiri umumnya tumbuh hingga mencapai 5 meter. Akan tetapi, National Geographic menyebutkan, rekor ular sanca kembang terpanjang sejauh ini diketahui sepanjang 7 meter. Bukan hanya panjang tubuh, reticulated python, sebutannya dalam bahasa Inggris, juga begitu dikenal lewat cara berburunya yang unik.

Jadi, sanca kembang bukanlah tergolong spesies ular yang berbisa. Reptil ini melumpuhkan mangsa dengan cara melilit erat tubuh mereka hingga tak berdaya. Di samping itu, sanca kembang dapat dengan leluasa menyusuri dasar hutan berkat pola kulit yang membantunya berkamuflase.

Walaupun tidak berbisa, banyak orang tetap takut apabila berada dekat dengan ular sanca kembang. Namun yang perlu Sahabat Satwa ketahui, keberadaan spesies ini sangat bermanfaat bagi manusia. Mereka punya peran dalam mengendalikan populasi tikus, babi, dan kera, yang kerap merusak pertanian masyarakat. 

King Cobra

King Cobra

Sahabat Satwa pastinya sudah kenal dengan jenis ular satu ini. Adalah king cobra (Ophiophagus hannah), juga dijuluki ular lanang, salah satu spesies ular paling mematikan di dunia. Bukan hanya itu, king cobra juga merupakan ular berbisa terpanjang di dunia, mampu tumbuh hingga 5,6 meter.

Julukan “raja” pada spesies ini ternyata ada kaitannya dengan kebiasaan mereka memangsa ular lain dan bahkan sesama ular kobra. Tak hanya itu, mereka juga menjadi predator bagi berbagai jenis burung dan kadal. Adapun yang paling mencolok dari king cobra adalah kemampuan mengembangkan tubuh dan tentunya bisa mereka. Dilansir laman BRIN, bisa king cobra memiliki neurotoksin yang sangat kuat. Seekor gajah bahkan bisa mati hanya dalam waktu beberapa jam setelah digigit ular berbisa ini, disebutkan laman Britannica Apabila manusia terkena gigitan berbisa ular king cobra, orang tersebut cenderung tidak akan merasakan sakit, tetapi efeknya begitu cepat dan bahkan menyebabkan kematian. Inilah efek dari neurotoksin tadi yang mampu melumpuhkan saraf pernapasan.

Terlepas dari bisa mematikan mereka, king cobra ternyata punya perilaku unik, khususnya perihal reproduksi mereka. Masih merujuk laman BRIN, si Ophiophagus hannah ternyata membuat sarang dan menjaga telurnya, sebuah perilaku yang jarang ditemukan pada ular lain. King cobra betina membuat sarang berupa gundukan dedaunan, kemudian ia akan menjaga telur-telurnya. Sang induk baru akan pergi ketika telur menetas.

Ular Hijau Ekor Merah

Ular Hijau Ekor Merah

Jenis ular di Indonesia berikutnya adalah ular hijau ekor merah (Trimeresurus albolabris). Juga dikenal dengan sebutan ular bangkai laut, viper satu ini menampilkan keindahan visual memukau, yakni tubuh berwarna hijau cerah dengan ujung ekor merah-kecokelatan, membuatnya kerap menjadi objek favorit fotografi makro alam.

Namun, jangan tertipu dengan penampilan cantiknya itu, Sahabat Satwa. Meskipun cantik dan tergolong kecil juga, panjang tubuhnya hanya sekitar 80–130 cm saja, ular hijau ekor merah punya bisa yang tak kalah berbahaya. Ular yang sering ditemukan di semak-semak atau pohon bambu ini memiliki bisa hemotoksin. Jenis bisa ini menyerang sistem peredaran darah, menyebabkan orang yang tergigit mengalami pembengkakan, rasa sakit luar biasa, dan bahkan kematian. Di samping itu, bisanya juga diketahui memiliki efek prokoagulan yang dapat mengganggu proses pembekuan darah.

Walaupun begitu, ular viper yang satu ini cenderung tidak agresif dan hanya akan menyerang ketika merasa terancam. Adapun kasus masyarakat Indonesia digigit ular hijau ekor merah, menurut Kompas, kebanyakan karena tak sengaja mengusik mereka, misalnya ketika mencari rumput atau memotong semak-semak. Di luar bisanya yang berbahaya, ular hijau ekor merah juga memiliki organ sensor panas (heat-sensing pits) di area wajah. Kemampuan ini mereka gunakan untuk mendeteksi mangsa berdarah panas ketika berburu di malam hari.

Ular Cincin Emas

Ular Cincin Emas

Terakhir, ada ular cincin emas atau mangrove snake (Boiga dendrophila). Hewan berdarah dingin ini memiliki ciri fisik berupa tubuh bersisik hitam dan pola garis-garis kuning tipis di sepanjang tubuh dan area wajahnya. Sesuai namanya pula, ular ini mendiami kawasan hutan mangrove, daerah aliran sungai, dan hutan dataran rendah. Ular cincin emas termasuk hewan nokturna dan mampu tumbuh hingga 2,5 meterl. Mereka lebih aktif di malam hari dan umumnya berburu berbagai macam katak, kadal, dan bahkan ular lainnya. Spesies ini juga termasuk ular berbisa, tetapi bisanya relatif lemah. Merujuk laman Smithsonian’s National Zoo and Conservation Biology Institute, bisa ular cincin emas, dikenal sebagai denmotoksin, seringnya mereka gunakan ketika berburu burung untuk melumpuhkan otot-otot mangsanya itu.

Meskipun tidak sampai mematikan, bisa ular cincin emas tetap perlu diwaspadai karena mengakibatkan pembengkakan yang sangat sakit. Untuk itu, apabila Sahabat Satwa tak sengaja tergigit ular ini, segera cari pertolongan medis agar kondisinya tidak semakin parah.

Observasi Ular di Taman Safari Bogor

Dari penjelasan di atas, Sahabat Satwa mungkin jadi lebih bersemangat untuk mengeksplor lebih jauh tentang keberanekaragaman reptil di Indonesia. Lewat keempat jenis ular tadi saja, kamu bisa mengapresiasi betapa unik dan menakjubkannya setiap spesies ular di Indonesia, mulai dari penampilan fisik hingga kemampuan adaptasi tubuhnya.

Akan tetapi, mengamati ular di alam liar sangatlah berisiko, apalagi kalau tidak sengaja menghadapi jenis ular yang mematikan. Kamu juga butuh keahlian navigasi hutan agar tidak sampai tersesat. Nah, Sahabat Satwa tak perlu sampai repot-repot masuk ke hutan belantara hanya untuk melihat langsung reptil-reptil tersebut. Kamu bisa dengan mudah menemukan berbagai jenis ular di Indonesia dengan mengunjungi Taman Safari Bogor!

Sebagai pusat konservasi dan riset satwa, Taman Safari Bogor memiliki area “Reptile Tunnel” yang memungkinkanmu untuk menyapa berbagai jenis satwa reptil eksotis, termasuk 21 spesies ular, dari jarak dekat tanpa takut digigit. Ada pula program edukasi satwa yang dipandu oleh keeper profesional, memberimu kesempatan untuk belajar fakta biologi langsung dari ahlinya.

Perlu diingat juga, Sahabat Satwa, reptil-reptil tersebut tentunya bukan sebatas pajangan semata. Mereka ditempatkan dalam exhibit guna menjaga kelestarian spesies mereka dan, pada waktu yang bersamaan, menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk belajar dan mengenal berbagai kelompok reptil yang ada di Nusantara.

Berinteraksi dengan Aneka Ular Eksotis tanpa Takut Digigit di Taman Safari Bogor

Jadi, tunggu apa lagi, Sahabat Satwa? Yuk, ajak teman dan keluarga untuk memperdalam wawasan tentang jenis-jenis ulang yang ada di Indonesia dengan mengamatinya secara langsung di “Reptile Tunnel”-nya Taman Safari Bogor! Untuk merencanakan kunjunganmu, Sahabat Satwa dapat dengan mudah memesan tiket Taman Safari Bogor melalui situsnya secara online. Segera pesan tiketmu dan rasakan pengalaman mengikuti sesi edukasi satwa yang berharga bersama keluarga!