Mengenal Keunikan Humboldt Penguin yang Hidup di Iklim Hangat

Mengenal Keunikan Humboldt Penguin yang Hidup di Iklim Hangat

Mengenal Keunikan Humboldt Penguin yang Hidup di Iklim Hangat

Penguin Humboldt merupakan spesies penguin unik yang habitat aslinya bukan di Antartika, melainkan di pesisir Chili dan Peru. Hal yang spesial dari penguin Humboldt, satwa satu ini memiliki kulit berwarna pink di bagian pangkal paruh dan memiliki adaptasi fisik khusus yang membuat mereka mampu bertahan hidup di lingkungan bersuhu hangat.

Memiliki nama ilmiah Spheniscus humboldti, penguin ini dinamai berdasarkan penjelajah Alexander von Humboldt dan Arus Humboldt yang mengalir sepanjang pantai Pasifik Amerika Selatan. Sayangnya, spesies ini termasuk rentan. Ingin tahu lebih dalam mengenai habitat asli, adaptasi fisik, dan status konservasinya? Temukan jawabannya dan amati langsung di sini!

Ciri Fisik dan Adaptasi Termoregulasi

Humboldt penguin memiliki tubuh berukuran 66–70 cm dan berat 4–5 kg untuk individu dewasa, seperti dilansir Britannica. Penguin jantan umumnya lebih tinggi dari betina, tetapi keduanya memiliki ciri fisik yang kurang lebih sama. Penguin Humboldt jantan dan betina mudah dikenali lewat fisik mereka berupa pita hitam di dada dan pita lebar berbentuk seperti huruf C yang ditutupi bulu putih di bagian kepala. Bagian dada hingga perut mereka berbulu putih dan dihiasi dengan pola bintik-bintik.

Uniknya, bintik-bintik tersebut unik alias berbeda-beda untuk setiap penguin, dan akan selalu sama sepanjang hidup, sekalipun mereka berganti bulu. Bukan hanya itu, spesies penguin yang mampu hidup hingga 20 tahun ini juga memiliki area kulit berwarna merah muda di sekitar pangkal paruh dan mata mereka. Nah, kulit pink ini bukan untuk penampilan saja, Sahabat Satwa, melainkan mengemban fungsi penting untuk si burung sendiri.

Laman Bird Note menjelaskan bahwa bagian merah muda ini mempunyai fungsi termoregulasi, yakni berperan dalam menjaga suhu tubuh penguin Humboldt tetap dingin, terlebih saat cuaca sedang panas-panasnya. Ketika suhu lingkungan meningkat, Humboldt mengeluarkan panas tubuhnya melalui area pink di bagian pangkal paruhnya itu, menyebabkan warnanya berubah menjadi merah muda pekat. Kenapa bisa begitu? Hal ini karena darah mengalir ke area tersebut untuk melepaskan panas. Kemampuan adaptasi yang luar biasa itu yang membuat burung-burung mungil ini spesial dan mampu bertahan di iklim nonkutub.

Kemampuan Berenang dan Perilaku Sosial

Humboldt penguin mungkin tergolong mungil, tapi kamu tidak boleh meremehkan kemampuan berenang mereka, Sahabat Satwa. Mereka adalah perenang yang andal, mampu berenang dengan kecepatan mencapai 30 mil per jam (sekitar 13,4 meter per detik), dan menyelam hingga kedalaman 150 meter, dikutip dari National Geographic, untuk berburu ikan, udang, ataupun cumi-cumi.

Kepiawaian penguin Humboldt dalam berenang itu berkat bentuk tubuh mereka. Tubuh yang menyerupai torpedo memungkinkan spesies ini untuk melesat di dalam air, dibantu dengan kaki mereka yang mendorong tubuh melaju di dalam air dari belakang.

Selain gesit, penguin yang suka makan sarden, teri, dan haring ini juga tergolong hewan yang setia, lho, Sahabat Satwa. Penguin Humboldt menjalin hubungan monogami seumur hidup. Mereka hanya akan berganti pasangan apabila proses perkembangbiakan gagal atau pasangan mereka mati.

Humboldt penguin juga termasuk hewan sosial yang hidup secara berkoloni. Mereka kerap membangun sarang dengan menggali lubang di tanah ataupun guano, tumpukan kotoran burung dan anjing laut yang mengeras, yang berada di gua atau lereng berbatu. Ini mereka lakukan guna menghindari terik matahari langsung.

Status Konservasi dan Ancaman Alami

Status konservasi Humboldt penguin menurut Daftar Merah IUCN sudah memasuki kategori Vulnerable (VU) atau Rentan. IUCN terakhir kali mencatat populasi spesies ini sebanyak 23.800 individu dewasa, dan angka tersebut kian menyusut hingga kini.

IUCN Penguin Specialist Group juga menyebutkan bahwa, secara historis, populasi Spheniscus humboldti sudah berkurang sejak abad ke-19 pertengahan. Faktor yang menjadi pemicu menurunnya populasi penguin Humboldt beragam, mulai dari pengrusakan habitat oleh manusia hingga perubahan iklim.

1. Pengrusakan Habitat dan Sarang

Jumlah Humboldt penguin di alam liar kian berkurang setiap waktunya lantaran habitat dan sarang mereka rusak, dan pengambilan guano oleh manusia menjadi salah satu ancaman paling serius.

Guano, yang merupakan tempat ideal bagi penguin Humboldt untuk membuat sarang, kerap diambil manusia untuk dijadikan sebagai pupuk alami tanaman. Pupuk dari guano sangat baik karena tinggi nitrogen, fosfat, kalium, dan nutrisi penting lainnya bagi tumbuhan.

Hanya saja, mengambil guano dalam jumlah yang besar menyebabkan semakin sedikitnya tempat bagi Humboldt penguin untuk berkembang biak. Selain itu, para petani yang mengambil guano tak jarang malah merusak sarang dan mengganggu para koloni penguin, memaksa mereka untuk membangun sarang baru di tebing berbatu atau gundukan kecil yang membuat mereka semakin rentan terhadap predator.

Kerusakan lingkungan, seperti tumpahan minyak, juga berdampak buruk terhadap keberlangsungan spesies dari ordo Sphenisciformes ini. Tumpahan minyak dapat memengaruhi sumber makanan para penguin dan berpotensi menurunkan tingkat kesuksesan reproduksi individu yang terpapar minyak.

2. Penangkapan Ikan Berlebihan

Overfishing atau penangkapan ikan secara berlebihan menyebabkan sumber makanan Humboldt penguin kian berkurang. Burung-burung kecil ini umumnya memangsa ikan teri, sarden, dan haring. Apabila ikan-ikan tersebut terus dieksploitasi, maka penguin Humboldt akan kekurangan pasokan makanan. Bukan hanya soal overfishing, cara nelayan menangkap ikan juga meningkatkan angka kematian penguin Humboldt. Tidak sedikit penguin Humboldt yang terjerat jaring nelayan; karena tak mampu melepaskan diri, mereka pun terjebak, kehabisan napas, dan akhirnya mati.

Nahasnya lagi, para penguin tersebut terkadang malah tidak dilepas kembali, melainkan sengaja ditangkap untuk diambil kulitnya, dijual sebagai hewan peliharaan, atau bahkan dijadikan umpan memancing. Metode penangkapan ikan yang lebih ekstrem, seperti memakai bahan peledak, juga menjadi penyebab kematian spesies penguin ini. Dinukil dari IUCN, penggunaan bahan peledak secara ilegal di Peru dan Chili telah memicu matinya banyak penguin Humboldt.

3. Perubahan Iklim: El Niño

Bukan hanya akibat ulah manusia, perubahan iklim, khususnya El Niño, juga menjadi ancaman alami terhadap keberlangsungan hidup Humboldt penguin. El Niño sendiri menyebabkan perairan di sekitar pesisir Amerika Selatan menghangat. Kondisi tersebut kerap memicu matinya ikan-ikan dan akhirnya berimbas pada menurunnya ketersediaan makanan bagi penguin Humboldt. Tak hanya itu, fenomena El Niño juga menimbulkan gelombang pantai, mengakibatkan lokasi biasa para penguin membuat sarang menjadi terendam air.

Ancaman El Niño ini tidak boleh dipandang sebelah mata, Sahabat Satwa. Berdasarkan situs Center for Biological Diversity, El Niño pada 1982–1983 menyebabkan penurunan populasi, dari sekitar 20.000 menjadi sekitar 5.500 individu, akibat kegagalan reproduksi dan kelaparan yang dialami penguin Humboldt dewasa.

Melihat kondisi populasi Humboldt yang semakin memprihatinkan tiap hari berganti, berbagai upaya konservasi pun terus dilakukan, salah satunya lewat pembentukan kawasan konservasi sistem guano yang diinisiasi Pemerintah Peru pada Januari 2010. Di samping itu, keberadaan mereka di lembaga konservasi, misalnya di taman safari, berfungsi sebagai bahtera penyelamat genetik sekaligus sarana edukasi publik.

Observasi Edukatif di Taman Safari Bogor

Bagi Sahabat Satwa yang ingin mempelajari dan melihat langsung Humboldt penguin, kamu tidak perlu jauh-jauh terbang ke Amerika Selatan. Kamu dapat menjumpai kawanan penguin lucu ini di Taman Safari Bogor.

Di sini, Sahabat Satwa dan keluarga dapat mengamati Humboldt penguin berenang dan berinteraksi satu sama lain dari dekat dalam habitat alami mereka. Pengunjung juga dapat melihat perilaku penguin Humboldt ketika diberi makan yang dipandu oleh keeper profesional.

Jadi, bukan sebatas hiburan ataupun kegiatan liburan saja, mengunjungi para Humboldt penguin dapat memperkaya wawasan pengetahuan Sahabat Satwa dan tentunya secara tidak langsung menunjukkan dukunganmu terhadap upaya konservasi para penguin imut tersebut.Nah, bagi Sahabat Satwa yang ingin merencanakan kunjungan edukatif ke Taman Safari Bogor untuk belajar dan mengamati penguin Humboldt secara langsung, kamu bisa melakukan booking tiket secara online melalui situs resmi Taman Safari Indonesia. Langsung lakukan pemesanan karena para penguin Humboldt sudah tak sabar menanti kehadiran Sahabat Satwa semua!